pengaturan tempat duduk siswa dalam kelas

Tempatduduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Ruangyang digunakan aman dan layak untuk pelaksanaan ujian; 2. Pembagian ruangan diatur sebagai berikut. a. Jumlah peserta dibagi 20; b. Setiap 20 peserta menempati 1 (satu) ruangan; dan. c. Jika sisa pembagian jumlah peserta adalah 1 (satu) sampai dengan 4 (empat) orang, maka dua ruangan terakhir diisi dengan 10 peserta dan sisanya. Pengaturantempat duduk siswa merupakan salah satu bentuk manajemen kelas yang dilakukan oleh guru. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di SD Negeri 2 Surodakan ditemukan bahwa guru sudah mengatur tempat duduk siswanya tetapi belum disesuaikan dengan pembelajaran. Pada kelas kontrol, siswa yang duduk di bagian belakang merasa kesulitan Berdasarkanpenejelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengaturan tempat duduk U Shape memiliki beberapa kelebihan yaitu : 1. Guru dapat melakukan gerakan kesegala arah mobilitas : Komunikasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam menyampaikan informasi kepada siswa. Ada 3 jenis komunikasi yang digunakan untuk mengembangkan Penyusunandan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan perlu diperhatikan hal-hal berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa, jumlah siswa dalam kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok dalam kelas, komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa pandai dengan siswa kurang pandai, pria dan wanita) [1] Whatsapp Dating Group In South Africa. Inilah contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif adalah pengaturan kursi dan meja yang meningkatkan fokus belajar. Menurut Sudarwan Danim yang dilansir dari Idtesis, disampaikan kalau kriteria sekolah yang bagus untuk pembelajaran efektif di antaranya adalah sudah dilakukan reorganisasi kelas agar mendukung kegiatan pembelajaran. Atas dasar itu, jika ingin pembelajaran efektif, guru harus menguasai contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif. Karena hal itulah, pada artikel berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh tatanan tempat duduk siswa, yang menurut Winzer yang dikutip Winataputra 1003 tidak hanya meningkatkan semangat belajar tetapi juga agar tidak terjadi kekacauan serta meningkatkan interaksi sosial antar siswa. Ini dia contoh tatanan tempat duduk yang dimaksud 1. Tatanan Kreatif Menurut ahli, model tempat duduk yang pertama ini, disebut tatanan kreatif. Sebagian besar, meja dan kursi memang di desain berbeda. Sedangkan bentuk tatanannya menyerupai huruf. Untuk posisi melingkar disebut model huruf O, sedangkan posisi dua berjajar ke depan dan di belakang bagian tengah berjajar ke samping hingga menyatu dengan jajar yang pertama di sebut model huruf U. 2. Tata Ruang Minimalis Tata ruang kelas minimalis, adalah tata desain kelas yang tidak banyak men-distraksi siswa. Selain jumlah meja kursi yang tidak terlalu banyak, gambar-gambar di tembok juga minimal. Tata ruang seperti ini bagus untuk siswa. Karena mereka bisa fokus belajar tanpa terganggu dengan objek dan warna mencolok yang ada di ruang kelas. Selain itu, dengan adanya beberapa vas bunga sebagai pendukung ruang, membuat siswa lebih betah belajar. Karena, kelas terlihat lebih indah dan enak dilihat. 3. Tata Ruang Melengkung Classic Tata ruang melengkung classic adalah tata ruang kelas dengan tempat duduk yang lumrah. Yaitu berbanjar ke depan dan ke samping. Namun, yang membedakan hanyalah, posisi tempat duduk bagian samping kanan serong ke kiri sedangkan bagian samping kiri serong ke kanan. Posisi bagian tengah tetap, sedangkan tempat duduk guru tepat di posisi tengah bagian depan. Dengan tatanan ruang kelas semacam ini, fokus siswa lebih menyeluruh. Karena semua pandangan mengarah pada guru yang menjelaskan di depan. Selain itu, desain ruang semacam ini tidak menyulitkan. Karena guru tinggal membelokkan sedikit saja posisi meja kursi siswa. 4. Tata Ruang Formasi Chevron Contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif yang ke empat adalah tata ruang formasi Chevron. Ini adalah tata ruang yang unik. Karena itu, penataannya lebih sulit dibandingkan yang lain. Selain dibutuhkan ruang kelas yang luas, guru juga harus merombak total penataan meja dan kursi. Tata meja dan kursi formasi Chevron, jika dilihat dari belakang seperti huruf V. Yang mana, meja dan kursi bagiansamping kanan dan kiri diposisikan menyerong ke arah depan dengan desain melebar, sehingga yang di belakang mengerucut pada satu kursi dan meja saja. Di posisi tengah yang kosong bisa diisi dua set meja dan kursi untuk dua orang siswa. Sedangkan guru berada di posisi tengah bagian depan. Teknik ini tidak hanya membuat anak fokus belajar, tetapi semangat belajarnya juga menjadi tinggi. Karena tata ruang semacam ini terlihat sangat elegan dan berkualitas. Pembelajaran efektif tidak hanya ditentukan oleh cara mengajar guru dan juga materi yang disampaikan. Lain daripada itu, posisi duduk siswa juga ikut andil mencapainya. Maka dari itu, silakan terapkan contoh tatanan tempat duduk siswa agar pembelajaran efektif di atas, jika ingin posisi duduk siswa tetap nyaman saat belajar. Abstrak Artikel ini membahas bagaimana pengelolaan kelas terhadap penataan posisi tempat duduk yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan di kelas. Pengaturan tempat duduk merupakan salah satu hal terpenting karena adanya tatap muka antara peserta didik dan guru didalam kelas. Tatap muka ini digunakan agar guru dapat mengontrol dan mengawasi setiap perilaku siswa-siswa didalam kelas sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan efektif. Metode yang digunakan untuk mengetahui peserta didik yang mengalami masalah dalam ketahanan duduknya digunakan metode observasi dan kuesioner. Penelitian ini bersifat kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pengaruh penataan posisi tempat duduk terhadap ketahanan duduk peserta didik yang diharapkan dapat mengurangi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan didalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD Negeri yang berada di Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini dalam pelaksanaannya diorientasikan pada peserta didik kelas satu. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa setelah peserta didik diberikan program penataan posisi tempat duduk, peserta didik mengalami perubahan namun dalam perubahan tersebut belum bersifat signifikan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free EduHumaniora Jurnal Pendidikan Dasar p-ISSN 2085-1243 e-ISSN 2579-5457 Vol. 12 Juli 2020 Hal 125-130 Mardiyah, Dewi, Safaruddin, Almanawara Posisi Tempat Duduk terhadap Ketahanan Duduk Peserta Didik dalam Pembelajaran 125 PENGARUH PENATAAN POSISI TEMPAT DUDUK TERHADAP KETAHANAN DUDUK PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN Safaruddin, Ainul Mardiyah, Rahmah Sari Dewi, Agmi Almanawara1,2,3,4 Universitas Negeri Padang Abstract This article discusses how classroom management of seating arrangements could affect the behavior of students who often walk around in class. Seating arrangements were one of the most important things because of the presence of face-to-face meetings between students and teachers in the classroom. This face-to-face was used so that the teacher can control and supervise every behavior of the students in the classroom so that the learning process can run well and effectively. The method used to find out students who experience problems in sitting resilience used observation and questionnaire methods. This research was qualitative in nature which aims to explain how the influence of arrangement of seat position on the resilience of students is expected to reduce the behavior of students who often take a walk in the classroom when the learning process takes place. This research was conducted in one of the Public Elementary Schools in Padang, West Sumatra. This research in its implementation was oriented to first grade students. The results of this study state that after students were given a seating position structuring program, students experience change but the changes have not been significant Keyword seating position, sitting resistance Abstrak Artikel ini membahas bagaimana pengelolaan kelas terhadap penataan posisi tempat duduk yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan di kelas. Pengaturan tempat duduk merupakan salah satu hal terpenting karena adanya tatap muka antara peserta didik dan guru didalam kelas. Tatap muka ini digunakan agar guru dapat mengontrol dan mengawasi setiap perilaku siswa-siswa didalam kelas sehingga proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan efektif. Metode yang digunakan untuk mengetahui peserta didik yang mengalami masalah dalam ketahanan duduknya digunakan metode observasi dan kuesioner. Penelitian ini bersifat kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pengaruh penataan posisi tempat duduk terhadap ketahanan duduk peserta didik yang diharapkan dapat mengurangi perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan didalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SD Negeri yang berada di Padang, Sumatera Barat. Penelitian ini dalam pelaksanaannya diorientasikan pada peserta didik kelas satu. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa setelah peserta didik diberikan program penataan posisi tempat duduk, peserta didik mengalami perubahan namun dalam perubahan tersebut belum bersifat signifikan. Kata Kunci Posisi tempat duduk, Ketahanan duduk Universitas Negeri Padang, Email safaruddin0366 Universitas Negeri Padang, Email mardiyahainul355 Universitas Negeri Padang, Email rahmahsari922 Universitas Negeri Padang, Email Agmialmanawara 126 EduHumaniora Vol. 12 No. 2, Juli 2020 PENDAHULUAN Pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran sangat diperlukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan dapat berlangsung dengan nyaman. Bagi sebagian peserta didik penataan tempat duduk merupakan hal yang sangat berpengaruh ketika belajar, masing-masing peserta didik memiliki kenyamanan tersendiri agar peserta didik memiliki ketahanan duduk dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Pengaturan tempat duduk didalam kelas juga dapat mempengaruhi kinerja peserta didik tersebut. Sebagian peserta didik lebih dapat dengan mudah menerima pelajaran ketika mereka duduk dibangku depan, sebagian peserta didik lainnya lebih nyaman menerima pelajaran ketika mereka duduk dibangku bagian tengah dan belakang maupun menggunakan model tempat duduk setengah lingkaran. Guru sebagai seorang pendidik harus mampu menata lingkungan fisik kelas dengan baik. Melalui penataan kelas yang tepat maka akan tercipta suasana belajar yang kondusif, selain itu siswa juga akan mendapat dorongan dan rangsangan untuk lebih semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Penataan lingkungan fisik kelas dapat berupa penataan tempat duduk Lestari, dkk, 2017. Sejalan dengan hal itu Richards 2012 mengatakan bahwa untuk menghidupkan ruang kelas dengan antusiasme dan pembelajaran diperlukan guru yang berbakat dalam menghasilkan suasana yang dapat membuat peserta didik menjadi lebih baik dan fokus, sehingga peserta didik dapat fokus dalam mengerjakan tugasnya dan dapat tenang. Ada beberapa peneliti yang melakukan penelitian mengenai penataan tempat duduk. Penelitian lain melaksanakan studi yang berfokus terutama pada hubungan langsung antara pengaturan dan perilaku peserta didik. Pengaturan tempat duduk tradisional bermakna bagi pengaturan ruang kelas dan menjadi komponen kunci untuk perilaku peserta didik karena mempengaruhi kinerja kelas, tetapi ada permasalahan dimana untuk meningkatkan efektivitas desain ruang kelas tersebut khususnya yang berkaitan dengan pengaturan tempat duduk harus dilakukan studi lebih lanjut tentang pengaruh latar belakang budaya peserta didik Haghighi & Jusan, 2012. Penelitian yang dilakukan Mansyur 2013 menyatakan hasil pengujian hipotesis diperoleh bukti bahwa rata-rata skor hasil belajar Statistik Pendidikan mahasiswa yang duduk diposisi depan secara signifikan lebih tinggi dari pada rata-rata skor hasil belajar Statistik Pendidikan mahasiswa yang duduk diposisi belakang. Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Kusumaningrum 2017 mendapatkan hasil dari SD Negeri yang berada di Kecamatan Talun, dari ke empat SD yang ada, peneliti mengambil hasil dari SD Negeri 3 Talun bahwa tingkat prestasi belajar peserta didik yang duduk diposisi depan memiliki tingkat prestasi belajar sedang, sedangkan pada peserta didik yang duduk di posisi tengah mendapatkan tingkat prestasi belajar sedang dan rendah, dan untuk peserta didik di posisi duduk dibelakang mendapatkan tingkat prestasi belajar yang sedang. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan pengelolaan kelas berupa pengaturan posisi tempat duduk terhadap peserta didik yang mengalami Attention problems/ Inatensivitas yang menyebabkan ia memiliki perilaku sering berjalan-jalan saat pembelajaran di kelas. Peneliti mengamati bahwa salah satu penyebab peserta didik memiliki perilaku sering berjalan-jalan di kelas tersebut dikarenakan peserta didik ditempatkan diposisi duduk paling belakang sehingga peserta didik tidak fokus dalam belajar. Mardiyah, Dewi, Safaruddin, Almanawara Posisi Tempat Duduk terhadap Ketahanan Duduk Peserta Didik dalam Pembelajaran 127 Oleh sebab itu, peneliti melakukan penelitian berupa pemindahan posisi tempat duduk peserta didik ke depan, yang bertujuan agar peserta didik lebih fokus dalam pembelajaran dan dapat mengurangi perilaku berjalan-jalannya didalam kelas tersebut. TINJUAN PUSTAKA Belajar merupakan salah satu aktivitas yang memerlukan konsentrasi ataupun pemusatan perhatian yang baik sehingga peserta didik mampu menerima pembelajaran, namun dalam hal ini terdapat peserta didik yang tidak memiliki konsentrasi yang baik atau mengalami gangguan pemusatan perhatian yang sering disebut attention problems atau inatensivitas. Pada peserta didik yang mengalami gangguan pemusatan perhatian attention problems /immaturity memiliki perilaku seperti konsentrasi yang jelek, sering bingung dan implusif Sumekar, 2009. Sedangkan pada peserta didik inatensivitas menunjukkan tidak adanya perhatian atau tidak menyimak dalam pembelajaran. Penderita mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap sesuatu yang sedang dihadapinya. Berikut ciri-ciri peserta didik yang mengalami inatensivitas a gagal menyimak hal yang rinci, b kesulitan bertahan pada satu aktivitas, c tidak mendengarkan sewaktu diajak berbicara, d sering tidak mengikuti instruksi, e kesulitan mengatur jadwal tugas dan kegiatan, f sering menghindar dari tugas, g sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk tugas, h sering beralih perhatian oleh stimulus dari luar, dan i sering lupa dalam kegiatan sehari-hari Marlina, 2011. Pemusatan perhatian merupakan hal yang tidak bisa diabaikan didalam kegiatan pembelajaran, karena tanpa adanya pemusatan perhatian di dalam kegiatan pembelajaran maka kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak dapat berjalan secara optimal Sukmawati, 2012. Salah satu akibat dari attention problems/inatensivitas ialah peserta didik sering menunjukkan perilaku seperti tidak mendengarkan guru saat pembelajaran dan sering berjalan-jalan di kelas. Supaya pembelajaran dapat berjalan lebih baik dan efektif, maka perlu dilakukannya penataan kelas. Penataan kelas merupakan cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan akademis dan sosial Luwesty, Syaiful, & Ekwandari, 2017. Penataan tempat duduk menjadi salah satu pengelolaan kelas yang mudah dilakukan karena tidak memakan waktu yang lama. Penataan tempat duduk memberikan efek yang cukup besar dibandingkan penataan fisik kelas lainnya. Penataan tempat duduk berpengaruh terhadap jumlah waktu yang digunakan peserta didik untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Luwesty et al., 2017. Pengaturan tempat duduk merupakan salah satu hal yang terpenting karena adanya tatap muka antara peserta didik dan guru didalam kelas. Melalui tatap muka tersebut maka guru mampu mengontrol dan mengawasi setiap perilaku siswa-siswa didalam kelas Pangastuti et al., 2017. Hal ini juga dapat diketahui pengaturan tempat duduk yang buruk dapat memengaruhi belajar peserta didik, jadi dengan memodifikasi pengaturan tempat duduk yang sesuai dan tepat dapat menjadi metode yang sangat bagus untuk mengurangi perilaku gangguan yang memengaruhi lingkungan kelas Haghighi & Jusan, 2012. 128 EduHumaniora Vol. 12 No. 2, Juli 2020 METODOLOGI PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di salah satu SDN yang berada di kota Padang, Sumatera Barat. Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari hingga April 2019, adapun pelaksanaan program dilakukan selama kurang lebih satu minggu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk menyelidiki pengaruh penataan posisi tempat duduk terhadap ketahanan duduk peserta didik. Pelaksanaan program dilakukan sebanyak satu kali, dimana peneliti dibantu oleh wali kelas untuk mendapatkan informasi mengenai hasil pelaksanaan program yang telah dilaksanakan. Oleh karena itu dilakukan wawancara terhadap guru wali kelas sesudah pemberian program pada peserta didik. Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik yang diidentifikasi mengalami gangguan perilaku berupa sering berjalan-jalan di kelas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Identifikasi Masalah Pada tahap ini dilakukan pengumpulan berbagai informasi tentang peserta didik yang memiliki hambatan perilaku berupa sering berjalan-jalan di dalam kelas. Proses pengumpulan informasi didapat dari wawancara yang dilakukan terhadap guru dan kuesioner yang dilakukan kepada siswa-siswi yang berada di kelas satu. Dari hasil observasi yang dilakukan ditemukan bahwa 1 sistem penataan tempat duduk yang terdapat di dalam kelas ialah formasi tradisional baris dan kolom; 2 peserta didik yang mengalami hambatan perilaku memiliki posisi duduk di barisan belakang. Permasalahan yang ada 1 peserta didik kurang fokus dalam memperhatikan pembelajaran; 2 pola penataan tempat duduk yang tidak dapat di ubah karena sarana yang tidak mendukung. Adapun hasil dari wawancara yang dilakukan terhadap Kepala Sekolah dan Guru kelas didapati bahwa peserta didik yang sering berjalan-jalan dikelas adalah W. Kemudian hasil dari kuesioner yang dilakukan dikelas didapati bahwa rata-rata peserta didik memilih W sebagai peserta didik yang sering berjalan-jalan didalam kelas saat proses pembelajaran. Setelah didapatkan analisis permasalahan di lapangan, tahap selanjutnya adalah melakukan rancangan program yang akan diberikan kepada peserta didik untuk mengatasi hambatan perilaku yang terjadi. Rancangan Program Merencanakan suatu pembelajaran agar berjalan dengan lancar dan efektif, maka guru perlu memiliki strategi dan metode dalam proses pembelajarannya. Proses pembelajaran yang dilakukan guru menggunakan strategi ekspositori dan metode ceramah plus, yaitu metode ceramah yang digabungkan dengan tanya jawab dan pemberian tugas. Sebelumnya, dalam melaksanakan pembelajaran guru sudah menerapkan strategi dan metode tersebut, namun hal ini masih kurang efektif dalam mengatasi masalah tingkah laku peserta didik yaitu sering berjalan-jalan di kelas saat pembelajaran berlangsung. Sebelum dilaksanakannya program penataan kelas, posisi duduk peserta didik berada di no. 13 pada gambar contoh penataan tempat duduk berikut Mardiyah, Dewi, Safaruddin, Almanawara Posisi Tempat Duduk terhadap Ketahanan Duduk Peserta Didik dalam Pembelajaran 129 Gambar 1. Contoh penataan posisi tempat duduk Oleh karena itu, peneliti mencoba melakukan pengelolaan kelas berupa penataan tempat duduk dimana peserta didik ditempatkan di depan nomor 3 dengan tujuan peserta didik dapat fokus dalam pembelajarannya sehingga diharapkan dapat mengurangi perilaku peserta didik berjalan-jalan saat pembelajaran berlangsung. Peneliti bekerjasama dengan guru wali kelas dalam pelaksanaan pengelolaan tempat duduk untuk menentukan posisi tempat duduk peserta didik, selain itu peneliti melakukan pendekatan dengan peserta didik sehingga peserta didik merasa nyaman. Dari pengamatan peneliti, posisi tempat duduk yang tepat bagi peserta didik yang mengalami gangguan perilaku ini yaitu dengan menempatkan peserta didik di barisan bangku paling depan dan posisi meja peserta didik ditempatkan di dekat meja guru serta berhadapan dengan papan tulis. Cara pertama yang dilakukan peneliti dalam melaksanaan penataan posisi tempat duduk ini, yaitu menggunakan pencabutan lot berdasarkan urutan absen kelas. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya cara ini kurang efektif dikarenakan tempat duduk yang didapat peserta didik lain dari hasil pencabutan lot tidak sesuai dengan keinginan peserta didik dikelas. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan cara penunjukkan secara langsung untuk memindahkan posisi tempat duduk peserta didik dibarisan depan nomor 3 atas persetujuan dan keinginan peserta didik sendiri. Berdasarkan pelaksanaan program penataan posisi tempat duduk yang dilakukan terhadap perilaku peserta didik yang sering berjalan-jalan di dalam kelas karena kurangnya konsentrasi saat proses pembelajaran berlangsung, yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh guru wali kelas, maka hasil yang didapat dari informasi guru wali kelas tersebut, yaitu perilaku berjalan-jalan peserta didik dikelas karena kurangnya konsentrasi dalam belajar tersebut mengalami perubahan terhadap penataan posisi tempat duduk yang dilakukan, namun perubahan tersebut belum bersifat signifikan, seperti yang pada awalnya saat peserta didik duduk dibelakang, peserta didik sering berjalan-jalan karena kurangnya konsentrasi tetapi setelah diberi program peserta didik ada mengalami perubahan pada tingkat konsentrasinya yang mengurangi sedikit perilaku berjalan-jalan peserta didik di dalam kelas. Sebelumnya dalam segi akademikpun peserta didik tidak bermasalah, seperti peserta didik sudah mengerti dengan huruf-huruf dan penggunaannya dalam pembuatan kata ataupun kalimat, namun dalam pembelajaran peserta didik masih menunjukkan ketidakmautahuan. Peserta didik malas untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, tetapi bila diberikan perhatian khusus dari guru yang tertuju kepada peserta didik, maka peserta didik mau untuk mengerjakan Tempat duduk peserta didik yang diteliti setelah dilakukan penataan posisi tempat duduk dikelas Tempat duduk peserta didik sebelum dilakukan penataan posisi tempat duduk dikelas 130 EduHumaniora Vol. 12 No. 2, Juli 2020 tugas maupun apa yang disuruh oleh guru yang mengajarnya. KESIMPULAN Dari hasil yang di dapat, maka dapat disimpulkan bahwa program penataan posisi tempat duduk yang dilakukan dengan cara penunjukkan secara langsung dapat digunakan dalam penelitian ini. Hasil pelaksanaan program penataan posisi tempat duduk yang ditunjuk secara langsung ini dapat mempengaruhi tingkah laku peserta didik yang diteliti, namun perubahan tersebut belum bersifat signifikan terhadap perubahan tingkah laku peserta didik yang sering berjalan-jalan dikelas saat proses pembelajaran berlangsung. DAFTAR PUSTAKA Haghighi, M. M., & Jusan, M. M. 2012. Exploring Students Behavior on Seating Arrangements in Learning Environment A Review. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 36 June 2011, 287–294. Kusumaningrum, N. A. M. D. D. N. B. D. E. 2017. Efek posisi tempat duduk peserta didik terhadap prestasi belajar peserta didik sekolah dasar negeri di kecamatan Talun Blitar, 1, 1–19. Lestari, Y. 2017. Pengaruh Penataan Tempat Duduk terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Kelas V SD N 20 Kota Bengkulu, 101, 61–65. Luwesty, A., Syaiful, M., & Ekwandari, Y. S. 2017. Exploring Students Behavior on Seating Arrangements in Learning Environment A Review, 01. Mansyur, T. M. 2013. Pengaruh Pemberian Tugas dan Posisi Tempat Duduk Terhadap Hasil Belajar Statisti Pendidikan, 26–34. Marlina. 2011. Aplikabilitas Metode Applied Behavior Analysis Untuk Mengurangi Perilaku Anak ADHD Attention Deficit Hyperactivity Disorders, 161, 39–52. Pangastuti, R., Solichah, I., Islam, U., Sunan, N., Surabaya, A., & Anak, T. P. 2017. Studi Analisis Manajemen Pengelolaan Kelas di Tempat Penitipan Anak TPA Khadijah Pandegiling Surabaya Ratna Pangastuti, Isnaini Solichah. 35, 2, 35–50. Richards, J. 2012. Setting the Stage for Student Engagement, December 2014. Sukmawati. 2012. Potret Pemusatan Perhatian Anak Di Dalam Kegiatan Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak Budi Mulia Padang, 11, 1–13. Sumekar, G. 2009. Anak Berkebutuhan Khusus. Padang UNP Press. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication. TantanganGurusiana Ke-333 Agar proses pembelajaran efektif di dalam kelas, seorang guru perlu menguasai bahan ajar, mampu menggunakan metode pembelajaran serta menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Dengan pengelolaan kelas yang efektif, akan tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Suasana kondusif dan menyenangkan, tercipta dari salah satu usaha guru dalam pengaturan tempat duduk siswa. Guru yang kreatif akan mengelola posisi tempat duduk siswa, sehingga melahirkan interaksi yang baik, misalnya dengan merotasi tempat duduk siswa setiap sebulan sekali atau dua bulan sekali. Pengaturan tempat duduk siswa dalam kelas sangat penting. Susunan tempat duduk dengan pola-pola tataan yang berbeda, akan berpengaruh kepada motivasi dan kenyamanan dalam belajar. Cara pengaturan tempat duduk diatur berdasarkan karakteristik siswa. Dengan demikian guru akan lebih mudah mengelola kelas, dan siswa merasa nyaman belajar bersama gurunya. * Lintau Buo, 16 Maret 2021 Herlina Suryati DISCLAIMER Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini. Laporkan Penyalahgunaan Penataan ruang kelas merupakan kegiatan yang harus dilakukan guru sehingga harapannya seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam aktifitas belajarnya. Pengaturan fisik kelas mulai dari kursi, meja, papan tulis, dsb, diarahkan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa. Dengan tata ruang kelas yang efektif tersebut siswa merasa senang, nyaman, aman dan belajar dengan baik. Pengelolaan tata ruang kelas adalah kegiatan mengurus dan menata sarana dan prasarana belajar yang terdapat di dalam ruang kelas sehingga aktivitas belajar mengajar dapat terlaksana dengan efektif. Berbagai sarana dan prasarana yang perlu dipersiapkan dan ditata dengan baik adalah meja dan kursi, papan tulis, penghapus, penggaris, papan absensi, rak buku, dan lain Yang Harus Diperhatikan dalam Tata Ruang KelasSuasana dan kondisi di ruang kelas dapat kita atur bagaimana supaya menggairahkan dan bersemangat. Pengaturan tata ruang kelas sebaiknya dapat menciptakan kondisi di mana siswa memungkinkan untuk dapat duduk berkelompok. Selain itu, kondisi di ruang kelas juga memudahkan guru untuk dapat bergerak secara leluasa sehingga ketika siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan persoalan, guru dapat menghampirinya untuk dibantu dalam mencari solusinya,Untuk mengatur tata ruang kelas, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaituBentuk dan ukuran ruang kelasBentuk serta ukuran bangku dan meja siswaJumlah siswa yang akan menempati di dalam kelasJumlah siswa dalam setiap kelompok ketika diadakan belajar kelompokJumlah kelompok dalam kelasKomposisi siswa dalam kelompok seperti komposisi pria dan wanita, serta siswa pandai dengan siswa kurang pandai.Indikator yang Harus Dipenuhi Dalam Penataan Fasilitas Ruang KelasBerikut ini adalah indikator yang harus dipenuhi ketika melakukan penataan fasilitas ruang kelasAnak-anak dapat belajar dengan aktif dan guru pun dapat mengelola kelas dengan lebih mudah dan lebih ruang kelas dapat dilakukan secara fleksibel sehingga ketika dibutuhkan perubahan dari satu tujuan ke tujuan lain dapat dilakukan sedemikian rupa dengan waktu yang fasilitas sarana dan prasarana yang dapat memberikan bantuan dalam guru menjelaskan konsep-konsep materi tertentu. Seperti misalnya adalah berupa gambar-gambar atau atau model atau media tempat penyimpanan alat atau media beljar yang cukup mudah dicapai sehingga waktu belajar siswa tidak ruang, fasilitas sarana dan prasarana kelas harus mampu membantu meningkatkan motivasi siswa dalam Tempat Duduk dalam Tata Ruang KelasMasalah utama dalam sebuah tata ruang kelas adalah pengaturan tempat duduk, pengaturan alat dan media pembelajaran, penataan keindahan kelas, dan pengaturan desain ventilasi untuk pemenuhan sumber cahaya pun pengaturan posisi tempat duduk siswa memberi dampak dalam proses pembelajaran. Dengan penataan tempat duduk yang tepat akan membuat guru lebih mudah dalam mengelola kelas. Untuk itu, dibutuhkan denah tempat duduk siswa apakah disusun standar, berbentuk letter U, berkelompok, atau lain sebagainya. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka akan tercipta kondisi yang menyenangkan bagi siswa untuk penataan tempat duduk, tempat duduk yang digunakan juga harus diperhatikan. Misalnya, tempat duduknya harus memiliki kualitas yang bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, atau harus ergonomi sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh bentuk dari tempat duduk dan mejanya, apakah bundar, persegi empat panjang, ataukah persegi. Bentuk dan ukuran meja belajar untuk di kelas sekarang ini cukup beragam, ada yang satu tempat duduk dapat diduduki oleh beberapa orang, ada pula yang hanya dapat diduduki oleh seorang secara umum formasi tempat duduk dapat dibagi menjadi tiga, yaituTempat duduk melingkar, cocok ketika pengajaran di kelas akan ditempuh dengan cara duduk standar berderet memanjang ke belakang, cocok untuk pengajaran di kelas yang ditempuh dengan metode duduk berbentuk Letter U, cocok untuk pengajaran yang dilakukan dengan konsep game bermain sambil belajar.Pengaturan Alat dan Media Pembelajaran di dalam Ruang KelasSeorang guru harus mampu menggunakan strategi dalam memanfaatkan alat dan media pembelajaran yang merupakan dua komponen lingkungan fisik yang ada di kelas. Di antara alat dan media pembelajaran yang harus diatur adalah sebagai berikut Alat peraga diletakkan di dalam ruang kelas sehingga memudahkan guru dan siswa dalam penggunaannya secara tulis, kapur tulis/spidol board marker. Ukuran papan tulis harus disesuaikan dan harmoni dengan ukuran ruang kelas, warnaya harus kontras dan penempatannya memperlihatkan estetika dan terjangkau oleh semua presentasi dipasang pada bagian depan sehingga dapat dilihat oleh semua siswa dan difungsikan sebagainya Keindahan dan Kebersihan di dalam Ruang KelasHiasan dinding pajangan kelas sebaiknya dipasang dengan memperhatikan kepatutan dan keindahan, seperti misalnya burung garuda, photo presiden dan wakilnya, teks proklamasi, slogan pendidikan, para pahlawan, dan peta/ rak buku diletakkan di depan sedangkan alat-alat peraga ditaruh di memelihara kebersihan, siswa secara bergiliran mendapatkan jadwal piket untuk membersihkan dan Tata Cahaya Ruang KelasBerikut ini adalah desain tata cahaya ruang kelas yang perlu diperhatikan, yaituSebaiknya terdapat ventilasi yang sesuai dengan ruangan bebas yang masuk harus sebaiknya masuk dari arah kiri, atau tidak berlawanan dengan bagian Penyimpanan Barang-Barang di Dalam Ruang KelasMedia dan barang-barang sebaiknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai apabila dibutuhkan. Media dan barang-barang tersebut buku pelajaran, pedoman kurikulum, dan lain sebagainya, sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa. Untuk mencapai pembelajaran yang efektif, maka dua hal berikut ini harus diperhatikanTempat duduk siswa harus diatur sedemikian rupa, di mana bangku dan meja yang disediakan memungkinkan untuk dipindah-pindah atau diubah kelas dalam kondisi bersih dan segar sehingga menjadikan siswa bergairah dalam tata ruang kelas diperlukan perencanaan yang baik dengan tujuan untuk menciptakan kondisi belajar yang optimal. Dengan begitu, proses belajar mengajar akan berjalan secara efektif dan efisien, sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang telah disusun oleh guru atau dosen pendidik. 8 Pola Tempat Duduk Siswa Dalam Kelas. Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa ciri, antara lain menuntut siswa untuk aktif dan kreatif menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar, dan bekerja dalam kelompok. Ciri tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual memiliki kontribusi dalam pengembangan kreativitas siswa secara maksimal. Pebelajaran kontekstual menuntut adanya kelas yang kondusif, yaitu kelas yang dapat menciptakan suasana yang mendorong siswa untuk belajar. Penataan lingkungan kelasnya mendukung hal itu. Di antara lingkungan kelas yang dibutuhkan adalah pengaturan meja-kursi siswa, penataan sumber dan alat bantu belajar, dan penataan pajangan hasil karya siswa. Dalam hal penataan meja-kursi siswa, paling sedikit harus memenuhi 4 kriteria 1 Mobilitas, untuk memudahkan siswa dalam bergerak dari satu tempat ke tempat lain, 2 Aksesibilitas, berarti memudahkan siswa dalam mengakses sumber dan alat bantu belajar, 3 Interaksi, berarti memudahkan siswa dalam berinteraksi dengan sesama teman dan atau gurunya, dan 4 Variasi kegiatan, berarti memudahkan siswa dalam melakukan berbagai kegiatan yang beragam, misalnya berdiskusi, melakukan percobaan, dan presentasi. Ada banyak pola pengaturan tepat duduk yang mendukung pembelajaran kontekstual atau PAIKEM. Pola tempat duduk ini berbeda dengan pengaturan konvensional yang lebih mirip kursi bus kota atau bioskop. Berikut ini 8 Pola Tempat Duduk Siswa Dalam Kelas untuk menunjang pembelajaran PAIKEM atau kontekstual 1. Formasi Huruf U Formasi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik dapat melihat guru dan/atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena guru dapat masuk dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi. Guru dapat menyusun meja dan kursi dalam format U sebagai berikut; Selain model di atas, formasi U berikut ini memungkinkan kelompok kecil yang terdiri dari tiga peserta didik atau lebih dapat keluar masuk dari tempatnya dengan mudah. Demikian 8 Pola Tempat Duduk Siswa Dalam Kelas. Untuk pola yang lain, tunggu saja tulisan berikutnya. Bag. 1, 2, 3, 4 Baca juga 3 Upaya Optimalisasi Pengelolaan Zakat UN Itu Tentang Kejujuran, Bukan Kelulusan Siswi Hamil dan Tahanan Tetap Berhak Ikut Ujian Nasional

pengaturan tempat duduk siswa dalam kelas